Belajar dari kasus Narada Aset Manajemen

Kasus gagal bayar Narada AM terakhir ini menguncang market kita, hingga beberapa saham yg dikorelasikan/dikaitkan dgn permainan bandar mendapatkan tekanan jual yg masif.

Hal ini membuat penurunan yg sigfinikan dan berhari-hari, hal ini membuat analisa teknikal terkesan tak berguna karena penurunan yg terjadi bisa langsung autorejection bawah. Hal inilah makanya diperlukan robot, yg bisa langsung mengeksekusi jika harga saham menembus level harga yg sudah kita tentukan (mungkin).

Penurunan yg terjadi adalah sistematik yg menjalar ke banyak saham2 kecil, bahkan ada kerabat kafein yg mengaitkan dgn saham bumi hingga tmpi, yah jelas sangatlah beda kasusnya dimana dua ini adalah terjadi dan berefek pada saham itu saja.

Tapi penurunan yg terjadi pada saham2 spt envy pure jsky sqmi tgra irra, karena adanya beberapa penyebab seperti (1) ada institusi yg harus keluar untuk mendapatkan cash instant (2) mungkin ada bandar yg memancing di air keruh (3) panic selling (4) force sell investor margin/ritel T+2.

Hal ini tentu saja mendorong harga saham menjadi tidak rasional, bukan murah. Sehingga saham2 ini nantinya akan mencari keseimbangan harga baru alias mantul, sebelum menentukan pergerakan harga selanjutnya. Dan ini tentu saja menjadi kesempatan untuk meraup untung bagi trader yg jeli terlebih lagi kalo trader tsb tidak nyangkut di harga atas atau lebih bagus lagi jika masih memiliki modal untuk entri beli.

Kembali lagi ke bahasan produk Reksadana, dimana untuk investor yg tidak memiliki skill investasi baik waktu maupun pikiran tentu reksadana menjadi alternatif pilihan baginya utk berinvestasi di bursa, disini perlu kafein ingatkan untuk produk reksadana sebisa mungkin track record performanya di atas 5 tahun hingga lebih, paling singkat 3 tahun lah, dgn catatan return (1) sejajar dgn/diatas idx (2) diatas suku bunga hingga 18%. Return diatas ini akan semakin meningkatkan risiko. Apalagi jika reksadana (RD) tsb mengalami perubahan kinerja naik turun yg berfluktuasi, yg berindikasi bahwa RD ini lebih baik ditradingkan jangka pendek.

Kinerja reksadana yg anjlok

Belajar dari kasus ini, makanya investor haruslah tetap meningkatkan skill/kemampuannya dalam mengikuti market hingga pemilihan RD yg baik dan kredibel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>